Senin, 10 Desember 2012


METODE KETELADANAN SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR
OLEH: Zainal Masri
MAHASISWA STAIN BATUSANGKAR


Keberhasilan dari suatu pelaksanaan pendidikan itu akan sangat ditentukan oleh beberapa faktor. Salah satu faktor tersebut adalah metode pendidikan. Apabila kita perhatikan dalam proses perkembangan pendidikan Agama Islam di Indonesia, bahwa salah satu gejala negatif sebagai penghalang yang paling menonjol dalam pelaksanaan pendidikan agama ialah masalah metode mengajar agama. Meskipun metode tidak akan berarti apa-apa bila dipandang terpisah dari komponen-komponen pendidikan yang lain.
Dalam kaitannya dengan metode sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan Islam, dimana tujuan umum pendidikan Islam adalah membimbing anak agar menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal shaleh dan berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan Negara.[1]
Maka diperlukan usaha dalam mencapai tujuan tersebut, pendidikan merupakan suatu usaha sedangkan metode merupakan cara untuk mempermudah dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini keteladanan berperan penting sebagai sebuah metode dalam mencapai tujuan dari pendidikan Islam.
Metode keteladanan itu juga diakui oleh Muhammad Qutb. Menurutnya keteladanan merupakan teknik pendidikan yang efektif dan sukses. hal itu berlaku terutama bagi anak-anak usia sekolah, hal itu disebabkan oleh ketertarikkan dan kesenangan anak dengan ia melihat kegiatan-kegiatan keagamaan yang dilakukan oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka.[2]
Kehidupan seorang manusia tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia lainnya. Sifat-sifat yang ada pada manusia cenderung ada suatu kesamaan, hal ini bisa diketahui bahwasanya seseorang berbuat sesuatu karena terobsesi oleh perbuatan orang lain. Wajarlah bila sifat-sifat yang ada pada manusia punya kecenderungan untuk meniru. Perbuatan meniru untuk hal yang positif dan terpuji disebut meneladani, yang biasanya banyak ditemui dalam kehidupan umat. Dalam hal ini seorang pemimpin mempunyai pengaruh yang kuat terhada masyarakatnya.
Dalam agama Islam dicontohkan sosok yang patut kita teladani yaitu Nabi Muhammad SAW, dimana dijelaskan dalam firman Allah SWT. Dalam Al Quran dapat ditemukan berbagai metode pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan semangat. Metode tersebut mampu menggugah puluhan ribu kaum mu’minin untuk membuka hati umat manusia agar dapat menerima petunjuk Ilahi dan kebudayaan Islami, di samping mengokohkan kedudukan mereka di muka bumi dalam masa yang sangat panjang, suatu kedudukan yang belum pernah dirasakan oleh umat-umat lain di muka bumi. Pembahasan tentang metodologi pendidikan Islami ini mengandung harapan, kiranya penulis dapat memetik petunjuk mengenai metodologi pendidikan Islami tersebut.
Banyak metodologi pendidikan Islam, dalam makalah ini penulis membahas tentang metode pendidikan Islam melalui keteladanan. Kehidupan ini sebagian besar dilalui dengan saling meniru atau mencontoh oleh manusia yang satu dengan yang lainnya. Kecenderungan mencontoh itu sangat besar pengaruhnya pada anak-anak, sehingga sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan. Sesuatu yang dicontoh, ditiru, atau diteladani itu mungkin yang bersifat baik dan mungkin pula bernilai keburukan. Untuk itu bagi umat Islam, keteladanan yang paling baik dan utama, terdapat di dalam diri dan pribadi Rasulullah Muhammad SAW sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan datangnya hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Rasulullah sebagai pendidik dan pengajar agung telah diberi anugerah predikat oleh Allah SWT sebagai “uswatun hasanah”. Keteladanan Rasulullah telah terlihat sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, dimana keteladanan beliau tercermin dari perkatannya, perbuatannya, sifat dan sikap beliau. Telah banyak musuh beliau dengan mudah mengikuti ajaran Agama Islam hanya karena kepribadian beliau. Dari hal tersebut dapat ditarik suatu pernyataan bahwasanya orang lebih mudah melakukan sesuatu dengan melihat atau menyaksikan daripada mendengarkan. Sebagaimana dalam sebuah keluarga kecenderungan anak bertingkah laku adalah tidak jauh dari apa-apa yang diperbuat oleh orang tuanya.
Kebiasaan-kebiasaan orang yang lebih tua di lingkungan tertentu menjadi sasaran tiruan bagi anak-anak sekitarnya. Meniru adalah suatu faktor yang penting dalam periode pertama dalam pembentukan kebiasaan seorang anak. Umpamanya melihat sesuatu yang terjadi di hadapan matanya, maka ia akan meniru dan kemudian mengulang-ulangi perbuatan tersebut hingga menjadi kebiasaan pula baginya.[3]
Oleh karena itu kehati-hatian para pendidikan / guru juga orang tua dalam bersikap dan berkata harus diperhatikan mengingat bahwa anak-anak lebih mudah meniru apa yang mereka saksikan. Di dalam pendidikan Islam sendiri menekankan adanya pendidikan budi pekerti untuk mendidik akhlak manusia sesuai dengan ajaran agama Islam.
Pendidikan budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpulkan bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak sebagai jiwa pendidikan Islam.[4] Dengan demikian patut disadari bahwa di lembaga pendidikan formal dan non-formal maupun informal seorang pendidik dianjurkan untuk bisa bersikap yang sebaik-baiknya, karena hal tersebut berpengaruh bagi anak didiknya.
Pendidik adalah merupakan salah satu faktor pendidikan yang sangat penting pula karena pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi anak didiknya.Guru atau pendidik merupakan orang tua kedua setelah orang tua di rumah bagi anak didik, maka guru harus menjadi figur bagi anak-anak didiknya.[5].
Upaya guru bersikap dan berprilaku sebaik-baiknya terhadap siswa merupakan nilai positif bagi peningkatan mutu dan kualitas proses belajar – mengajar. Terutama pada pendidikan agama, ia mempunyai tanggung jawab yang lebih berat dibandingkan dengan pendidikan pada umunya, karena selain bertanggung jawab terhadap pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan tuntunan agama Islam, juga bertanggung jawab terhadap Allah di akhirat nanti.
Sikap, prilaku dan perkataan guru yang sesuati dengan ajaran Islam perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai teladan bagi anak didiknya. Untuk menerapkan pendidikan moral agama tersebut terdapat beberapa metode diantaranya adalah dengan pendidikan secara langsung, dengan cara menggunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menjelaskan manfaat dan bahaya-bahaya sesuatu, memberikan contoh yang baik (teladan), sehingga mendorong anak untuk berbudi pekerti luhur dan menghindari segala hal yang tercela. Hal ini tentunya tidak terlepas dari sikap guru dan perilaku guru sebagai contohnya serta teladan bagi siswanya.Karena adanya kecenderungan anak untuk meniru apa yang dilihatnya, maka dengan keteladanan pribadi seorang guru tanpa disadari telah terpengaruh dan tertanam pada diri anak. Dari sikap tersebut akhirnya tertanamlah suatu akhlak yang baik dan diharapkan pada diri anak, sehingga pembentukan akhlkul karimah dapat terealisasikan.
Menyadari pernyataan di atas dapat diambil pengertian bahwa kebutuhan manusia akan keteladanan lahir dari suatu gharizah (naluri) yang bersemayam di dalam jiwa manusia yaitu jiwa taqlid (peniruan). Sebagai contoh bahwa mansuai suka meniru adalah sekelompok anak remaja yuang sedang mengalami perkembangan, ia mulai mencari orang lain yang dapat mereka jadikan teladan (pahlawan) sebagai ganti orang tua dan orang-orang yang bisa menasehati mereka.[6] Oleh sebab itu, pendidikan keteladanan merupakan suatu metode dalam pendidikan Islam, mengingat begitu kuat dan besar pengaruhnya terhadap anak. Orang tua sebagai teladan di rumah tangganya, hendaknya tidak merasa cukup bila anak sudah beranjak dewasa, sudah mampu membedakan mana hal baik dan mana yang buruk, tetapi si orang tua masih mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk senantiasa membimbingnya di dalam gerak-gerik anak.
Al-Ghazali mengatakan bahwa pujian terhadap hal-hal baik, serta celaan terhadap perbuatan kurang baik yang dilakukan di depan anak bisa merupakan sarana yang membantu dalam mendidik.[7]
Di dalam pelajaran agama Islam juga menyajikan suatu keteladanan khususnya dalam pendidikan Islam bukan hanya sekedar untuk dikagumi atau direnungi, akan tetapi supaya ditanamkan di dalam diri dan diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana diterangkan, bahwasanya metode pemberian contoh teladan yang baik (uswatun hasanah) terhadap manusia didik, terutama anak-anak yang mampun berpikir kritis, akan banyak mempengaruhi pola tingkah laku mereka dalam aktivitas sehari-hari atau dalam mengerjakan suatu tugas yang sulit.
Begitu besarnya pengaruh dan pentingnya keteladanan ini, maka sudah sewajarnya bila pendidikan Islam memasukkan metode keteladanan ini dalam upaya mencapai tujuan. Guru agama sebagai pembawa dan pengamal nilai-nilai agama, kultural dan ilmu pengetahuan akan memperoleh kedayagunaan mengajar atau mendidik anak, sehingga metode keteladanan dapat diterapkan terutama dalam pendidikan akhlakul karimah dan agama serta sikap mental anak didik.
Dalam hal ini kita kembali lagi pada hakekat pendidikan Islam yaitu usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak didik melalui ajaran Islam ke arah titik tolak maksimal pertumbuhan perkembangannya.
Nilai-nilai Edukatif dalam Keteladanan
Di antara tipe-tipe peneladanan, yang terpenting ialah :
1.      Pengaruh Langsung yang Tak Disengaja
Keberhasilan tipe peneladanan ini banyak bergantung pada kualitas kesungguhan realisasi karakteristik yang diteladankan, seperti: keilmuan, kepemimpinan, keikhlasan, atau lain sebagainya. Dalam kondisi ini pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Ini berarti bahwa setiap orang yang diharapkan menjadi teladan hendaknya memelihara tingkah lakunya, disertai kesadaran bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah dalam segala hal yang diikuti oleh orang lain. Khususnya pada pengagumnya. Kualitas kewaspadaan dan keikhlasannya bertambah, seiring sejalan dengan derajat kekaguman serta tingkat peneladanan orang lain terhadapnya.
2.      Pengaruh yang Sengaja
Kadangkala peneladanan diupayakan secara sengaja. Maka kita dapatkan umpamanya guru memberikan contoh membaca yang baik agar para pelajar menirunya, imam membaikkan shalatnya untuk mengajarkan shalat yang sempurna kepada orang-orang, dan komandan maju ke depan barisan di dalam jihad untuk menanamkan keberanian, pengorbanan, dan kegigihan di dalam jiwa pasukannya.

Para sahabat telah mempelajari berbagai urusan agama mereka dengan jalan mengikuti teladan yang sengaja diberikan Rasulullah SAW. Umpamanya, beliau bersabda kepada mereka :
“Shalatlah kalain sebagaimana kalian melihat aku shalat.” (HR Bukhari).

Kelebihan dan Kekurangan Metode Keteladanan
Metode keteladanan juga memiliki kekurangan dan kelebihan sendiri, sebagaimana lazimnya metode-metode lainnya. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang praktisi pendidikan Islam Armai Arif dalam bukunya Pengantar Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam, secara sederhana berkaitan dengan penerapannya dalam proses pendidikan kelebihan dan kekurangan metode keteladanan dapat dijelaskan yaitu sebagai berikut:
Kelebihan Metode Keteladanan
Diantara kelebihan dari metode keteladanan yaitu sebagai berikut: (1)Metode keteladanan akan memberikan kemudahan kepada pendidik dalam melakukan evaluasi terhadap hasil dari proses belajar mengajar yang dijalankannya.(2)Metode keteladanan akan memudahkan peserta didik dalam mmempraktikkan dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya selama proses pendidikan berlangsung.(3)Bila keteladanan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan atau sekolah dan masyarakat baik, maka akan tercipta situasi yang baik.(4)Metode keteladanan dapat menciptakan hubungan harmonis antara peserta didik dengan  pendidik.(5)Dengan metode keteladanan tujuan pendidikan yang ingin dicapai menjadi lebih terarah dan tercapai dengan baik.(6)Dengan metode keteladanan pendidik secara tidak langsung dapat mengimplementasikan ilmu yang diajarkannya.(7)Metode keteladanan juga mendorong pendidik untuk senantiasa berbuat baik karena menyadari dirinya akan dicontoh oleh peserta didiknya.
Dari kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan di atas dapat dikatakan bahwa metode keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya mewujudkan pendidikan Islam, dimana selain diajarkan secara teoritis peserta didik juga bisa melihat secara langsung bagaimana praktik atau pengamalan dari pendidiknya yang kemudian bisa dijadikan teladan atau contoh dalam berprilaku dan mengamalkan atau mengaplikasikan materi pendidikan yang telah dia pelajari selama proses belajar menganjar berlangsung.
Kekurangan Metode Keteladanan
(a)Jika dalam proses belajar mengajar figur yang diteladani dalam hal ini pendidik  tidak baik, maka peserta didik cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut pula.(b)Jika dalam proses belajar menganjar hanya memberikan teori tanpa diikuti dengan  implementasi maka tujuan pendidikan yang akan dicapai akan sulit terarahkan. (c)Dari serangkaian kelebihan dan juga kekurangan yang telah dijelaskan di atas dapat dikatakan bahwa, metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang mempunyai pengaruh dan terbukti bisa dikatakan efektif dengan berbagai kelebihannya, meskipun juga tidak terlepas dari kekurangan, dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual dan etos sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak didik, yang tindak-tanduk dan sopan santunnya disadari atau tidak, akan ditiru atau diteladani oleh peserta didiknya.
Jadi dari kelebihan dan kekurangan diatas dapat terlihat betapa sentralnya peranan guru dalam hal ini merupakan sosok kunci yang akan memberikan telardan kepada peserta didik, dan juga sosok yang akan dijadikan model atu teladan oleh peserta didik, jadui dalam hal ini sukses atau tidaknya Metode keteladalan dalam suatu pembelajran sangat tergantung pada sosok guru yang diteladani. Oleh karena itu, keteladanan yang baik adalah salah satu metode  yang bisa diterapkan untuk merealisasikan tujuan pendidikan. Hal ini karena keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan dalam upaya mencapai keberhasilan pendidikan, dan juga dapat memberikan kontribusi yang sangat besar terhadap nilai-nilai pendidikan Islam terutama pendidikan ibadah dan pendidikan akhlak.



KESIMPULAN

Dari serangkaian pembahasan diatas mengenai metode keteladanan sebagai slah satu upaya peningkatan hasil belajar dapat disimpulkan bahwa:
Pendidikan Islam bertujuan untuk membina dan membentuk perilaku atau akhlak peserta didik dengan cara meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, serta pengamalan peserta didik terhadap ajaran Islam. Dalam berlangsungnya sebuah proses belajar menganjar  metode mempunyai peranan yang sangat penting.
Metode uswah adalah metode pendidikan yang diterapkan dengan cara memberi contoh-contoh (teladan) yang baik yang berupa prilaku nyata, khusunya ibadah dan akhlak. Metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang mempunyai pengaruh dan terbukti bisa dikatakan efektif dengan berbagai kelebihannya, meskipun juga tidak terlepas dari kekurangan, dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral, spiritual, dan etos sosial anak
Diantara kelebihan dari metode keteladanan yaitu: metode keteladanan akan memberikan kemudahan kepada pendidik dalam melakukan evaluasi terhadap hasil dari proses belajar mengajar yang dijalankannya. Metode keteladanan akan memudahkan peserta didik dalam mempraktikkan dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya selama proses pendidikan berlangsung dan lain-lain.
Sementara itu metode keteladanan juga mempunyai kekurangan diantaranya yaitu: jika dalam proses belajar mengajar figur yang diteladani dalam hal ini pendidik  tidak baik, maka mereka peserta didik cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut pula.





SUMBER BACAAN
Drs. Bukhari Umar, Hadist Tarbawi,batusangkar: STAIN Batusangkar press,2011
Zuhairini, Abdul Gofir, Slamet As. Yusuf, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya : Usaha Nasional, 1983
M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1970
Abu Ahmadi, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Bandung : Armico, 1992
Fathiyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan Al-Ghazali (Jakarta :Perhimpunan Pengembangan Pesanteren dan Masyarakat {P3M}



[1] Zuhairini, Abdul Gofir, Slamet As. Yusuf, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Surabaya : Usaha Nasional, 1983), hal. 79.
[2] Drs. Bukhari Umar, Hadist Tarbawi, (Batusangkar: STAIN Batusangkar press,2011), h.104
[3] M. Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan Islam (Jakarta : Bulan Bintang, 1970), hal. 109.
[4] Ibid. h.1
[5] Abu Ahmadi, Metodik Khusus Pendidikan Agama (Bandung : Armico, 1992), hal. 48.

[7] Fathiyah Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan Al-Ghazali (Jakarta :Perhimpunan Pengembangan Pesanteren dan Masyarakat {P3M}, hal. 81.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar