METODE KETELADANAN SEBAGAI SALAH SATU UPAYA PENINGKATAN HASIL BELAJAR
OLEH: Zainal Masri
MAHASISWA STAIN BATUSANGKAR
Keberhasilan
dari suatu pelaksanaan pendidikan itu akan sangat ditentukan oleh beberapa
faktor. Salah satu faktor tersebut adalah metode pendidikan. Apabila kita
perhatikan dalam proses perkembangan pendidikan Agama Islam di Indonesia, bahwa
salah satu gejala negatif sebagai penghalang yang paling menonjol dalam
pelaksanaan pendidikan agama ialah masalah metode mengajar agama. Meskipun
metode tidak akan berarti apa-apa bila dipandang terpisah dari
komponen-komponen pendidikan yang lain.
Dalam kaitannya dengan metode sebagai alat untuk mencapai
tujuan pendidikan Islam, dimana tujuan umum pendidikan Islam adalah membimbing
anak agar menjadi orang muslim sejati, beriman teguh, beramal shaleh dan
berakhlak mulia serta berguna bagi masyarakat, agama dan Negara.[1]
Maka diperlukan usaha dalam mencapai tujuan tersebut,
pendidikan merupakan suatu usaha sedangkan metode merupakan cara untuk
mempermudah dalam mencapai tujuan. Dalam hal ini
keteladanan berperan penting sebagai sebuah metode dalam mencapai tujuan dari
pendidikan Islam.
Metode keteladanan itu juga diakui oleh Muhammad Qutb.
Menurutnya keteladanan merupakan teknik pendidikan yang efektif dan sukses. hal
itu berlaku terutama bagi anak-anak usia sekolah, hal itu disebabkan oleh
ketertarikkan dan kesenangan anak dengan ia melihat kegiatan-kegiatan keagamaan
yang dilakukan oleh orang dewasa dalam lingkungan mereka.[2]
Kehidupan
seorang manusia tidak jauh berbeda dengan kehidupan manusia lainnya. Sifat-sifat
yang ada pada manusia cenderung ada suatu kesamaan, hal ini bisa diketahui
bahwasanya seseorang berbuat sesuatu karena terobsesi oleh perbuatan orang
lain. Wajarlah bila sifat-sifat yang ada pada manusia punya kecenderungan untuk
meniru. Perbuatan meniru untuk hal yang positif dan terpuji disebut meneladani,
yang biasanya banyak ditemui dalam kehidupan umat. Dalam hal ini seorang
pemimpin mempunyai pengaruh yang kuat terhada masyarakatnya.
Dalam
agama Islam dicontohkan sosok yang patut kita teladani yaitu Nabi Muhammad SAW,
dimana dijelaskan dalam firman Allah SWT. Dalam Al Quran dapat ditemukan berbagai metode
pendidikan yang sangat menyentuh perasaan, mendidik jiwa dan membangkitkan
semangat. Metode tersebut mampu menggugah puluhan ribu kaum mu’minin untuk
membuka hati umat manusia agar dapat menerima petunjuk Ilahi dan kebudayaan Islami,
di samping mengokohkan kedudukan mereka di muka bumi dalam masa yang sangat
panjang, suatu kedudukan yang belum pernah dirasakan oleh umat-umat lain di
muka bumi. Pembahasan tentang metodologi pendidikan Islami ini mengandung
harapan, kiranya penulis dapat memetik petunjuk mengenai metodologi pendidikan
Islami tersebut.
Banyak
metodologi pendidikan Islam, dalam makalah ini penulis membahas tentang metode
pendidikan Islam melalui keteladanan. Kehidupan ini sebagian besar dilalui
dengan saling meniru atau mencontoh oleh manusia yang satu dengan yang lainnya.
Kecenderungan mencontoh itu sangat besar pengaruhnya pada anak-anak, sehingga
sangat besar pengaruhnya bagi perkembangan. Sesuatu yang dicontoh, ditiru, atau
diteladani itu mungkin yang bersifat baik dan mungkin pula bernilai keburukan.
Untuk itu bagi umat Islam, keteladanan yang paling baik dan utama, terdapat di
dalam diri dan pribadi Rasulullah Muhammad SAW sebagaimana firman Allah SWT :
Artinya : Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah
itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan datangnya hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.
Rasulullah
sebagai pendidik dan pengajar agung telah diberi anugerah predikat oleh Allah
SWT sebagai “uswatun hasanah”. Keteladanan Rasulullah telah
terlihat sebelum beliau diangkat menjadi Rasul, dimana keteladanan beliau
tercermin dari perkatannya, perbuatannya, sifat dan sikap beliau. Telah banyak
musuh beliau dengan mudah mengikuti ajaran Agama Islam hanya karena kepribadian
beliau. Dari hal tersebut dapat ditarik suatu pernyataan bahwasanya orang lebih
mudah melakukan sesuatu dengan melihat atau menyaksikan daripada mendengarkan.
Sebagaimana dalam sebuah keluarga kecenderungan anak bertingkah laku adalah
tidak jauh dari apa-apa yang diperbuat oleh orang tuanya.
Kebiasaan-kebiasaan
orang yang lebih tua di lingkungan tertentu menjadi sasaran tiruan bagi anak-anak
sekitarnya. Meniru adalah suatu faktor yang penting dalam periode pertama dalam
pembentukan kebiasaan seorang anak. Umpamanya melihat sesuatu yang terjadi di
hadapan matanya, maka ia akan meniru dan kemudian mengulang-ulangi perbuatan
tersebut hingga menjadi kebiasaan pula baginya.[3]
Oleh
karena itu kehati-hatian para pendidikan / guru juga orang tua dalam bersikap
dan berkata harus diperhatikan mengingat bahwa anak-anak lebih mudah meniru apa
yang mereka saksikan. Di dalam pendidikan Islam sendiri menekankan adanya
pendidikan budi pekerti untuk mendidik akhlak manusia sesuai dengan ajaran
agama Islam.
Pendidikan
budi pekerti adalah jiwa dari pendidikan Islam, dan Islam telah menyimpulkan
bahwa pendidikan budi pekerti dan akhlak sebagai jiwa pendidikan Islam.[4] Dengan demikian patut
disadari bahwa di lembaga pendidikan formal dan non-formal maupun informal
seorang pendidik dianjurkan untuk bisa bersikap yang sebaik-baiknya, karena hal
tersebut berpengaruh bagi anak didiknya.
Pendidik
adalah merupakan salah satu faktor pendidikan yang sangat penting pula karena
pendidik itulah yang akan bertanggung jawab dalam pembentukan pribadi anak
didiknya.Guru atau pendidik merupakan orang tua kedua setelah orang tua di
rumah bagi anak didik, maka guru harus menjadi figur bagi anak-anak didiknya.[5].
Upaya
guru bersikap dan berprilaku sebaik-baiknya terhadap siswa merupakan nilai
positif bagi peningkatan mutu dan kualitas proses belajar – mengajar. Terutama
pada pendidikan agama, ia mempunyai tanggung jawab yang lebih berat
dibandingkan dengan pendidikan pada umunya, karena selain bertanggung jawab
terhadap pembentukan pribadi anak yang sesuai dengan tuntunan agama Islam, juga
bertanggung jawab terhadap Allah di akhirat nanti.
Sikap, prilaku dan perkataan guru yang sesuati dengan
ajaran Islam perlu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari sebagai teladan
bagi anak didiknya. Untuk menerapkan pendidikan moral agama
tersebut terdapat beberapa metode diantaranya adalah dengan pendidikan secara
langsung, dengan cara menggunakan petunjuk, tuntunan, nasehat, menjelaskan
manfaat dan bahaya-bahaya sesuatu, memberikan contoh yang baik (teladan),
sehingga mendorong anak untuk berbudi pekerti luhur dan menghindari segala hal
yang tercela. Hal ini tentunya tidak terlepas dari sikap guru dan perilaku guru
sebagai contohnya serta teladan bagi siswanya.Karena adanya kecenderungan anak untuk meniru apa yang
dilihatnya, maka dengan keteladanan pribadi seorang guru tanpa disadari telah
terpengaruh dan tertanam pada diri anak. Dari sikap tersebut akhirnya
tertanamlah suatu akhlak yang baik dan diharapkan pada diri anak, sehingga
pembentukan akhlkul karimah dapat terealisasikan.
Menyadari pernyataan di atas dapat diambil pengertian
bahwa kebutuhan manusia akan keteladanan lahir dari suatu gharizah (naluri)
yang bersemayam di dalam jiwa manusia yaitu jiwa taqlid (peniruan). Sebagai
contoh bahwa mansuai suka meniru adalah sekelompok anak remaja yuang sedang
mengalami perkembangan, ia mulai mencari orang lain yang dapat mereka jadikan
teladan (pahlawan) sebagai ganti orang tua dan orang-orang yang bisa menasehati
mereka.[6] Oleh sebab itu, pendidikan keteladanan
merupakan suatu metode dalam pendidikan Islam, mengingat begitu kuat dan besar
pengaruhnya terhadap anak. Orang tua sebagai teladan di rumah tangganya,
hendaknya tidak merasa cukup bila anak sudah beranjak dewasa, sudah mampu
membedakan mana hal baik dan mana yang buruk, tetapi si orang tua masih
mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk senantiasa membimbingnya di dalam
gerak-gerik anak.
Al-Ghazali
mengatakan bahwa pujian terhadap hal-hal baik, serta celaan terhadap perbuatan
kurang baik yang dilakukan di depan anak bisa merupakan sarana yang membantu
dalam mendidik.[7]
Di dalam pelajaran agama Islam juga menyajikan suatu
keteladanan khususnya dalam pendidikan Islam bukan hanya sekedar untuk dikagumi
atau direnungi, akan tetapi supaya ditanamkan di dalam diri dan diterapkan di
dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagaimana diterangkan, bahwasanya metode pemberian
contoh teladan yang baik (uswatun hasanah) terhadap manusia didik, terutama
anak-anak yang mampun berpikir kritis, akan banyak mempengaruhi pola tingkah
laku mereka dalam aktivitas sehari-hari atau dalam mengerjakan suatu tugas yang
sulit.
Begitu
besarnya pengaruh dan pentingnya keteladanan ini, maka sudah sewajarnya bila
pendidikan Islam memasukkan metode keteladanan ini dalam upaya mencapai tujuan.
Guru agama sebagai pembawa dan pengamal nilai-nilai agama, kultural dan ilmu
pengetahuan akan memperoleh kedayagunaan mengajar atau mendidik anak, sehingga
metode keteladanan dapat diterapkan terutama dalam pendidikan akhlakul
karimah dan agama serta sikap mental anak didik.
Dalam hal ini kita kembali lagi pada hakekat pendidikan
Islam yaitu usaha orang dewasa muslim yang bertaqwa secara sadar mengarahkan
dan membimbing pertumbuhan serta perkembangan fitrah (kemampuan dasar) anak
didik melalui ajaran Islam ke arah titik tolak maksimal pertumbuhan
perkembangannya.
Nilai-nilai
Edukatif dalam Keteladanan
Di antara tipe-tipe
peneladanan, yang terpenting ialah :
1.
Pengaruh Langsung
yang Tak Disengaja
Keberhasilan tipe peneladanan ini banyak bergantung pada kualitas
kesungguhan realisasi karakteristik yang diteladankan, seperti: keilmuan,
kepemimpinan, keikhlasan, atau lain sebagainya. Dalam
kondisi ini pengaruh teladan berjalan secara langsung tanpa disengaja. Ini
berarti bahwa setiap orang yang diharapkan menjadi teladan hendaknya memelihara
tingkah lakunya, disertai kesadaran bahwa ia bertanggung jawab di hadapan Allah
dalam segala hal yang diikuti oleh orang lain. Khususnya pada pengagumnya.
Kualitas kewaspadaan dan keikhlasannya bertambah, seiring sejalan dengan
derajat kekaguman serta tingkat peneladanan orang lain terhadapnya.
2.
Pengaruh
yang Sengaja
Kadangkala peneladanan
diupayakan secara sengaja. Maka kita dapatkan umpamanya guru memberikan contoh
membaca yang baik agar para pelajar menirunya, imam membaikkan shalatnya untuk
mengajarkan shalat yang sempurna kepada orang-orang, dan komandan maju ke depan
barisan di dalam jihad untuk menanamkan keberanian, pengorbanan, dan kegigihan
di dalam jiwa pasukannya.
Para sahabat telah mempelajari berbagai urusan agama mereka dengan jalan mengikuti teladan yang sengaja diberikan Rasulullah SAW. Umpamanya, beliau bersabda kepada mereka :
“Shalatlah kalain sebagaimana kalian
melihat aku shalat.” (HR Bukhari).
Kelebihan dan Kekurangan Metode Keteladanan
Metode keteladanan juga memiliki kekurangan dan kelebihan
sendiri, sebagaimana lazimnya metode-metode lainnya. Sebagaimana
yang dikatakan oleh seorang praktisi pendidikan Islam Armai Arif dalam bukunya Pengantar
Ilmu Dan Metodologi Pendidikan Islam, secara sederhana berkaitan dengan
penerapannya dalam proses pendidikan kelebihan dan kekurangan metode
keteladanan dapat dijelaskan yaitu sebagai berikut:
Kelebihan
Metode Keteladanan
Diantara kelebihan dari metode keteladanan yaitu sebagai
berikut: (1)Metode keteladanan akan memberikan kemudahan kepada pendidik dalam
melakukan evaluasi terhadap hasil dari proses belajar mengajar yang
dijalankannya.(2)Metode keteladanan akan memudahkan peserta didik dalam mmempraktikkan
dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya selama proses pendidikan
berlangsung.(3)Bila keteladanan di lingkungan keluarga, lembaga pendidikan atau
sekolah dan masyarakat baik, maka akan tercipta situasi yang baik.(4)Metode keteladanan dapat menciptakan hubungan harmonis
antara peserta didik dengan pendidik.(5)Dengan
metode keteladanan tujuan pendidikan yang ingin dicapai menjadi lebih terarah
dan tercapai dengan baik.(6)Dengan metode keteladanan pendidik secara tidak langsung
dapat mengimplementasikan ilmu yang diajarkannya.(7)Metode
keteladanan juga mendorong pendidik untuk senantiasa berbuat baik karena
menyadari dirinya akan dicontoh oleh peserta didiknya.
Dari kelebihan-kelebihan yang telah disebutkan di atas
dapat dikatakan bahwa metode keteladanan memiliki peranan yang sangat
signifikan dalam upaya mewujudkan pendidikan Islam, dimana selain diajarkan
secara teoritis peserta didik juga bisa melihat secara langsung bagaimana
praktik atau pengamalan dari pendidiknya yang kemudian bisa dijadikan teladan
atau contoh dalam berprilaku dan mengamalkan atau mengaplikasikan materi
pendidikan yang telah dia pelajari selama proses belajar menganjar berlangsung.
Kekurangan Metode
Keteladanan
(a)Jika dalam proses belajar mengajar figur
yang diteladani dalam hal ini pendidik tidak baik, maka peserta didik
cenderung mengikuti hal-hal yang tidak baik tersebut pula.(b)Jika dalam proses belajar menganjar
hanya memberikan teori tanpa diikuti dengan implementasi maka tujuan
pendidikan yang akan dicapai akan sulit terarahkan. (c)Dari serangkaian kelebihan dan juga
kekurangan yang telah dijelaskan di atas dapat dikatakan bahwa, metode
keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang mempunyai pengaruh dan
terbukti bisa dikatakan efektif dengan berbagai kelebihannya, meskipun juga
tidak terlepas dari kekurangan, dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral,
spiritual dan etos sosial anak. Hal ini karena pendidik adalah figur terbaik dalam pandangan anak didik,
yang tindak-tanduk dan sopan santunnya disadari atau tidak, akan ditiru atau
diteladani oleh peserta didiknya.
Jadi dari kelebihan dan kekurangan diatas dapat terlihat
betapa sentralnya peranan guru dalam hal ini merupakan sosok kunci yang akan
memberikan telardan kepada peserta didik, dan juga sosok yang akan dijadikan
model atu teladan oleh peserta didik, jadui dalam hal ini sukses atau tidaknya
Metode keteladalan dalam suatu pembelajran sangat tergantung pada sosok guru
yang diteladani. Oleh karena itu, keteladanan yang baik adalah salah satu
metode yang bisa diterapkan untuk merealisasikan tujuan
pendidikan. Hal ini karena keteladanan memiliki peranan yang sangat signifikan
dalam upaya mencapai keberhasilan pendidikan, dan juga dapat memberikan
kontribusi yang sangat besar terhadap nilai-nilai pendidikan Islam terutama pendidikan
ibadah dan pendidikan akhlak.
KESIMPULAN
Dari
serangkaian pembahasan diatas mengenai metode keteladanan sebagai slah
satu upaya peningkatan hasil belajar dapat
disimpulkan bahwa:
Pendidikan
Islam bertujuan untuk membina dan membentuk perilaku atau akhlak peserta didik
dengan cara meningkatkan keimanan, pemahaman, penghayatan, serta pengamalan
peserta didik terhadap ajaran Islam. Dalam berlangsungnya sebuah proses belajar
menganjar metode mempunyai peranan yang sangat penting.
Metode uswah
adalah metode pendidikan yang diterapkan dengan cara memberi contoh-contoh
(teladan) yang baik yang berupa prilaku nyata, khusunya ibadah dan akhlak.
Metode keteladanan dalam pendidikan merupakan metode yang mempunyai pengaruh
dan terbukti bisa dikatakan efektif dengan berbagai kelebihannya, meskipun juga
tidak terlepas dari kekurangan, dalam mempersiapkan dan membentuk aspek moral,
spiritual, dan etos sosial anak
Diantara
kelebihan dari metode keteladanan yaitu: metode keteladanan akan memberikan kemudahan
kepada pendidik dalam melakukan evaluasi terhadap hasil dari proses belajar
mengajar yang dijalankannya. Metode keteladanan akan memudahkan peserta didik
dalam mempraktikkan dan mengimplementasikan ilmu yang dipelajarinya selama
proses pendidikan berlangsung dan lain-lain.
Sementara itu
metode keteladanan juga mempunyai kekurangan diantaranya yaitu: jika dalam
proses belajar mengajar figur yang diteladani dalam hal ini pendidik
tidak baik, maka mereka peserta didik cenderung mengikuti hal-hal yang tidak
baik tersebut pula.
SUMBER BACAAN
Drs. Bukhari Umar, Hadist Tarbawi,batusangkar: STAIN
Batusangkar press,2011
Zuhairini,
Abdul Gofir, Slamet As. Yusuf, Metodik Khusus Pendidikan Agama, Surabaya : Usaha Nasional, 1983
M.
Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-dasar Pendidikan Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1970
Abu Ahmadi, Metodik
Khusus Pendidikan Agama, Bandung
: Armico, 1992
Fathiyah
Hasan Sulaiman, Konsep Pendidikan Al-Ghazali (Jakarta
:Perhimpunan Pengembangan Pesanteren dan Masyarakat {P3M}
Tidak ada komentar:
Posting Komentar